Selasa, 16 Desember 2008

contoh iklan advertising Pr II

Sebelum adanya teknologi, PR berbasis pada tulisan tangan melalui media cetak. Dengan adanya teknologi, kegiatan PR dapat dilakukan dengan lebih mudah. Tugas PR ialah menjaga media relation dengan public dan stakeholder. Pada dasarnya tujuan dari PR ialah untuk berkomunikasi, melalui teknologi, dunia global seperti disatukan satu dengan yang lainnya. Sehingga, komunikasi yang disampaikan menjadi jauh lebih mudah dan luas, mencakup wilayah global dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu teknologi merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan PR. global seperti disatukan satu dengan yang lainnya.
Dengan teknologi, PR dapat dilakukan melalui : Video Confrence, Video News Release, Web Casting, Personal Computer, Online Monitoring, The Email Revolution, Interactive PR.
Kesenjangan teknologi dengan kondisi perkembangan PR di Indonesia:
Video Conference: didistribusikan melalui satelit yang merupakan alat penting bagi PR. dengan teknologi ini PR professional dapat bekerja walaupun dalam jarak yang jauh. Di Indonesia, VC sudah banyak digunakan, tetapi belum dapat mencakup seluruh daerah di Indonesia, karena signal satelit yang dipancarkan kurang begitu baik. Contoh: praktisi PR dapat berkomunikasi dengan para stakeholder nya tidak harus bertemu secara langsung, juga ditempat dan waktu yang berbeda.
Video News Releases: VNR sejajar dengan media cetak namun dapat didengar dan dilihat bukan sekedar dibaca. Walaupun biayanya mahal, free publicity yang didapatkan dengan VNR. Durasinya biasanya 90 detik hingga 2 menit. Di Indonesia belum terlalu umum digunakan, dan apabila digunakan belum bisa mencakup daerah terpencil.
Web Casting: Tipe broadcasting yang terdiri atas video dan audio di internet, biasanya digunakan untuk live press conference. Jadi dalam kasus ini reporter atau produser dapat menontonnya langsung melalui desktop.Di Indonesia, teknologi ini sudah umum digunakan terutama di daerah kota besar.
Personal Computer:Sekarang semua firma PR mempunyai personal komputer untuk menyimpan online data base. Di Indonesia, perkembangan firma PR sudah sangat pesat. PR bukan hanya sekedar pembicara tetapi sebagai investasi perusahaan, kerena itu penyimpanan data base di personal komputer sangat penting.
Online Monitoring: Teknologi ini membantu mereka bagaimana perkembangan media, pesaing, dan customer. Otomatis teknologi ini sangat dibutuhkan oleh setiap praktisi PR termasuk di Indonesia.
The E-mail Revolution:Teknologi ini sangat berperan di Indonesia. Bagi praktisi PR, E-mail merupakan metode dasar untuk berkomunikasi dengan pihak lain.
Interactive PR: Ini merupakan interactive news release yang lebih specific dengan menggunakan password yang dilindungi untuk menjaga kerahasiaan data perusahaan. Setiap praktisi PR professional umumnya menggunakan teknologi ini termasuk di Indonesia.
Paduan yang pas antar iklan dan teknologi
Pada intinya advertising adalah suatu bentuk komunikasi yang ditujukan pada pemirsa berpotensial mengenai produk dan jasa yang akan dipasarkan. Target pemirsa advertising tentunya adlaah masyarakat dalam jumlah besar. Maka itu advertising membutuhkan media yang dapat mencakup masyarakat besar pula agar komunikasinya dapat tersampaikan. Media media tersebut adlah media massa yang terdiri dari Televisi, radio, Majalah, koran Internet, dll. Kesemua media tersebut pastinya tidak terlepas dari teknologi. Teknologi jelas sangat besar perannya dalam penyampaian pesan. Dengan teknologi pesan dapat disampaikan kepada msayrakat luas hanya dengan sekejap. Dalam advertising pun speperti itu. Perkembagan advertising juga tidak terlepas dari teknologi.
Misalnya jaman dulu iklan mungkin hanyalah sampai teknologi cetak saja, namun berjalan seiring dengan perkembangan teknologi sperti Tv, radio, internet. Maka advertising juga merambah media berteknologi mutakhir ini. Hal ini dimaksudkan agar penyampaiannya lebnih mudah dan dampak yang terjadi sesuai dengan dampak yang diharapkan.
Contoh langsung adalah ‘online advertising’. Online advertising adalah iklan yang muncul di website-website tertentu. Misalnya pada situs www.yahoo.com atau www.detik.com. Ini adalah situs yang umum dikunjungi oleh masyarakat. Dengan advertiser merambah teknologi ini, maka otomatis penyampaian pesan kepada orang banyak juga bisa tercapai. Apalagi sekarang ini internet tengah digemari oleh orang banyak. Fakta mengatakan 52% wanita, informasi dari internet memabntu mereka untuk mendapat hidup yang lebih sehat dan satu dari empat wanita mengungkapkan bahwa mereka dapat menimprovisasikan penampilan mereka info-info kecantikan melalui internet. Ini adalah pasar yang sangat berpotensi bagi pengiklan kosmetik misalnya.dampak yang dihasilkan pasti sangat signifikan karena advertiser membidik target yang tepat melauli media yang tepat pula.
Contoh lainnya adalah pada teknologi ‘Database marketing’. Teknoligi memungkinkan advertiser untuk menyimpan informasi pribadi si konsumen agar mereka dapat mengirimkan pesan langsung secara pribadi. Contohnya ucapan selamat ulang tahun sekaligus megiklankan launching produk baru. Ini sangat membantu dalam penyampaian pesan dan dampaknya agar tercapai sesuai harapan.
Di Indonesia sendiri advertising sudah cukup maju dan semakin kreatif, namun masih ada beberapa teknologi yang belum bisa dijangkau oleh Indonesia. Contohnya Interactive TV dimana advertiser menggunakan media ini untuk mengiklankan produknya, dan penonton juga bisa mengakses email, browsing. Smeuanya ini bisa dilakukan sambil menonton TV.
Teknologi yang belum ada juga adalah talking billboard. Teknologi ini adalah billboard interaktif yang bisa berbicara dan berganti gambar sesuai dengan siapa yang berdiri didepannya. Selain itu dibuku ini jgua ada lembaga seperti (ACT) Action for Children. Ini adalah lembaga yang mengajarkan anak-anak dalam menganalisa iklan, dan juga melindungi anak-anak dari iklan yang tidak tepat.

Iklan yang berteknologi tinggi:
- Billboard A-Mild di Senayan pada bulan puasa,Billboard ini sangat menarik perhatian masyarakat, karena penyampaiannya yang berbeda pada siang dan malam hari. Pada siang hari, gambar yang ditampilkan hanya berupa mangkok kosong, tetapi disaat menjelang malam mangkok itu berubah menjadi terisi beraneka ragam makanan.
- Billboard TV plasma LG di mal senayan city.Iklan ini terdapat di tempat pengecekan mobil mal senayan city, jadi billboard ini bergerak turun dan naik seiring dengan pemeriksaan mobil.

- Billboard di Time Square, New York.Iklan gedung-gedung di New York, sudah sangat berkembang pesat dengan tampilan billboard yang bergerak mengikuti gedung itu. - Sliding Billboard yang berganti dalam kurun waktu tertentu.
- LCD plasma TV di jalan-jalan utama ibukota, contoh : di depan bundaran HI.- Iklan 3 dimensi di Plaza Senayan.

contoh iklan advertising Pr I


Ambient Advertising dan Fenomena Modernitas Dunia Barat
Oleh: Bambang Sukma Wijaya
Philip Kotler (2000: 3) mengatakan bahwa dunia pemasaran hanya dapat berkembang di negara-negara yang menganut sistem demokrasi dan ekonomi terbuka. Hal ini dikarenakan pasar yang ada di negara-negara tersebut membuka peluang kompetisi yang lebih kondusif. Sedangkan kompetisi pasar merupakan stimulus utama berkembangnya strategi-strategi dan kreativitas baru yang dibutuhkan dalam dunia pemasaran. Tak heran, perkembangan pesat dunia pemasaran atau marketing kebanyakan terjadi di negara-negara maju (Barat) yang telah lama menjalankan sistem demokrasi dan ekonomi pasar bebas, seperti negara Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa barat. Banyak merek-merek produk ternama lahir dari negara-negara tersebut seperti Nike, McDonalds, Mercedes Benz, VW, Nokia, dan lain-lain.
Merek-merek global tersebut tidak dibangun dalam sekejap, namun melalui suatu perjalanan panjang dengan strategi komunikasi pemasaran yang terarah. Salah satu bentuk komunikasi pemasaran paling populer adalah iklan. Tak dapat dipungkiri, bahwa periklanan dengan segala kreativitasnya yang menarik dan terkadang kontroversial telah memberi kontribusi besar bagi perkembangan ekonomi global. Iklan dapat memacu penjualan produk. Iklan dapat menstimulasi lesunya pasar. Iklan dapat mendongkrak image produk. Iklan dapat menciptakan gaya hidup baru. Bahkan iklan pun acap dituding sebagai agen propaganda konsumerisme. Sementara konsumerisme merupakan anak kandung dari kapitalisme yang lahir dari rahim modernitas Eropa dan dunia Barat.
Kapitalisme, sebagaimana teori sistem dunia Immanuel Wallerstein (1974) muncul sebagai sistem ekonomi dominan sejak awal abad ke-16 yang disebut Wallerstein sebagai tahap “ekonomi dunia”. Peran negara (pemerintah) sebagai badan pengatur dan kordinator aktivitas ekonomi mulai merosot dan digantikan oleh pasar.
Pada tahap ini, sistem kapitalis menunjukkan potensi ekspansi yang sangat besar. Dinamika internal untuk bergerak sendiri dan kemampuan menjaga agar suplai barang tetap melimpah menyebabkan sistem ini sangat menarik bagi segmen terbesar penduduk (Sztompka, 2007: 107).
Sistem ini pun mengendalikan kekuasaan politik dan militer sehingga memungkinkan untuk meluaskan kekuasaannya. Pembangunan transportasi, teknologi militer dan komunikasi mempercepat perkembangan sistem kapitalis ke seluruh dunia. Dampaknya pun terasa dengan lahirnya strata dan ketimpangan masyarakat dunia. Masyarakat dunia teriris menjadi tiga strata: inti, menengah atau semi pinggiran dan pinggiran. Sebutan populer untuk stratifikasi ini biasa disebut Dunia Pertama, Dunia Kedua dan Dunia Ketiga.
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, kapitalisme berasal dari inti atau Dunia Pertama, yakni masyarakat Eropa barat, kemudian meluas ke semi pinggiran dan pinggiran. Masyarakat di negara pinggiran seperti Indonesia dan beberapa negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin terpaksa memasuki sistem masyarakat dunia yang didominasi oleh inti (Dunia Pertama) namun mereka masih tetap berada di pinggiran sistem, setidaknya dipandang dari sudut distribusi kekuasaan dan keuntungan ekonomi dunia (Chirot, 1977).
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, kapitalisme juga mendorong persaingan bebas di pasar sehingga untuk dapat menang di pasar, sebuah merek produk harus mengerahkan segala daya kreatif dan strategi pemasaran yang cerdik. Konsumen tidak lagi dihadapkan pada satu atau dua merek produk, tetapi ribuan merek yang berlomba merebut perhatian mereka. Itulah mengapa, di era pasar moderen yang hiper kompetitif terutama di negara-negara maju seperti Eropa, para pemasar maupun praktisi komunikasi pemasaran pun berlomba menciptakan cara-cara baru dalam mengomunikasikan merek produk agar konsumen tertarik. Perkembangan kreativitas iklan, selain memberi kontribusi ekonomis yang luar biasa bagi perkembangan media-media konvensional seperti televisi, radio, suratkabar dan majalah, juga membuka kemungkinan eksplorasi penggunaan media-media baru dan alternatif, seperti ambient media atau ambient advertising.
Sebagaimana diketahui, ambient advertising dikembangkan pertama kali di London, Inggris oleh sebuah biro iklan bernama Concord Advertising. Di tengah fenomena modernitas masyarakat Eropa yang ditandai berkembangnya teknologi-teknologi baru, gaya hidup moderen yang membuat masyarakat terjebak dalam rutinitas ketergesaan, ketidakpedulian (individualis), serta kian padatnya pesan-pesan produk di hampir setiap sudut tempat, ambient advertising hadir untuk menyita perhatian masyarakat di tempat-tempat yang tak terduga, tanpa “memaksa” mereka menyediakan waktu khusus untuk menikmati media sebagaimana terhadap media-media konvensional seperti televisi dan lain-lain.
Beberapa alasan yang melatarbelakangi perkembangan ambient advertising adalah:
- Seebagai bentuk penolakan terhadap dominasi kekuasaan media tradisional (konvensional)
- Kebutuhan untuk melakukan komunikasi di tempat penjualan (point-of-sales)
- Kemampuannya menjangkau target khalayak secara tepat (http://wikipedia.org)
Tak heran, ambient advertising menjadi “mainan baru” para praktisi komunikasi pemasaran dan kreatif periklanan. Salah satu contoh iklan ambient media atau ambient advertising adalah iklan sebuah produk mie spaghetti di Jerman yang menyimulasikan mie dengan tali tambang berwarna kuning yang sepintas mirip mie spaghetti yang sebenarnya.
Pada dinding sebuah kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan Hamburg, Jerman ditempeli stiker gambar wajah dengan ekspresi nikmat. Stiker tersebut dipasang sedemikian rupa dengan mulut gambar berada tepat di lubang saluran tali. Sehingga ketika tali ditarik dari dalam kapal, gambar seolah-olah sedang menghirup tali dengan nikmat, seperti nikmatnya mengonsumsi mie spaghetti Mondo Pasta, merek produk tersebut.

Gambar 1. Iklan ambient media di pelabuhan Hamburg, Jerman yang menyimulasikan kelezatan mie spaghetti merek Mondo Pasta (Sumber: www.ambient-planet.com)
Sementara di Indonesia, pada tahun 2006 sebuah contoh iklan layanan masyarakat ambient advertising bertema “helping hands” menampilkan tangan-tangan anak-anak yang mengambang di kolam bundaran HI Jakarta, seolah meminta pertolongan. Iklan tersebut disampaikan oleh lembaga pencari donor untuk anak-anak korban bencana tsunami Aceh. Tentu saja pesan yang ingin disampaikan untuk menggugah pengunjung yang melewati jalan di bundaran HI agar menyisihkan sebagian miliknya untuk membantu para korban dengan menyajikan pengalaman bagaimana rasanya melihat langsung anak-anak yang menjadi korban tsunami. Efek yang ditampilkan pasti berbeda jika pesan disampaikan melalui iklan di media konvensional seperti televisi dan suratkabar, yang mana khalayak hanya membayangkan keadaan para korban di tempat aslinya yang jauh. Iklan yang dibuat oleh biro iklan JWT ini berhasil memperoleh penghargaan di ajang lomba periklanan internasional.

Gambar 2. Iklan ambient media di kolam bundaran HI Jakarta dari lembaga pencari donor bagi anak-anak korban tsunami Aceh (Sumber: dok. JWT Indonesia)
Ambient advertising memang memiliki kekuatan menarik perhatian khalayak di sekitarnya dan cenderung lebih mudah menciptakan kepercayaan karena khalayak langsung “mengalami” isi pesan yang disampaikan. Julie Aveyard, Advertising Campaigns Manager perusahaan telekomunikasi BT Cellnet memaparkan pengalamannya di Majalah Marketing (2001) Inggris bahwa, “The essence of ambient advertising is about taking people by surprise and making our communication more relevant and credible.” (Terjemahan: kekuatan ambient advertising adalah memberi kejutan bagi orang-orang dan menjadikan komunikasi kami lebih relevan dan kredibel).
Sedangkan Richard Wier, Direktur HiTech Solutions menggambarkan ambient advertising sebagai medium yang tidak sekompleks media konvensional, namun lebih terjamin untuk dilihat pesannya oleh konsumen. Mike Baker, direktur pemasaran TDI London menyebut ambient advertising sebagai taktik yang tidak membutuhkan investasi besar-besaran namun memberikan dampak lebih diingat dan relevan (Marketing, London: 1997).
Keunikan dan keistimewaan ambient advertising tidak hanya pada eksekusi kreatifnya yang mampu menarik perhatian, sifat komunikasinya yang menyinergikan penyampaian pesan dengan pembuktian pesan sehingga khalayak dapat ‘mengalami’ atau merasakan langsung pesannya, tetapi juga mampu memberikan efek word of mouth dan publisitas yang luas karena menjadi bahan pembicaraan khalayak. Itulah mengapa, Alastair Ray dari Majalah Marketing London menyebut: “Ambient advertising used to be more PR than advertising, with firms striving to be the first brand to advertise in urinals and wheat fields in a bid to generate press coverage worth more than the campaign itself” (Terjemahan: ambient advertising kadang lebih cenderung menjalankan fungsi PR daripada periklanan, dengan menjadi merek pertama yang ditemukan secara unik di suatu tempat yang tidak biasa, maka akan mengundang liputan pers sehingga memberi efek lebih dari sekadar tujuan kampanyenya itu sendiri) (Marketing, London: 2001).
Fenomena ambient advertising yang awalnya muncul dan berkembang di Eropa sebagai konsekuensi logis perkembangan gaya hidup moderen di bawah payung kapitalisme, juga merambah periklanan negara-negara Dunia Ketiga atau pinggiran seperti Indonesia. Selain contoh iklan “helping hands” yang dibuat JWT di atas, cukup banyak iklan-iklan ambient lain yang dibuat oleh tenaga kreatif periklanan Indonesia. Hal ini semakin menegaskan tentang salah satu asumsi dalam teori modernisasi bahwa “masyarakat yang kurang maju harus mengikuti jalan yang sudah ditempuh oleh masyarakat yang lebih maju, mengikuti langkah yang sama, atau berdiri di tangga lebih rendah di eskalator yang sama”.
Apa yang menjadi tren di negara Barat, menjadi tren pula di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

contoh iklan corporate advertising II



Setelah krisis moneter 1997 dan bersamaan dengan proses reformasi negeri kita yang berjalan selama sepuluh tahun (1998-2007), beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan pergeseran warna promosi yang digelar para pemasar. Gaya promosi simpatik yang mengundang konsumen untuk terlibat dalam program kepedulian mulai diminati produsen, walau pun gebyar promosi dengan jor-joran hadiah masih sering bermunculan.
Promosi peduli semacam itu tampaknya menjadi pola baru. Produsen bukan saja berusaha menggaet pembeli, tapi sekaligus menanamkan citra dirinya sebagai perusahaan yang peduli terhadap problema di tengah-tengah masyarakat. Jadi promosi itu menjadi sarana kehumasan (public relations/PR) yang ampuh untuk merebut simpati di hati publik.
Salah satu program promosi simpatik yang bukan sekadar jualan, tapi turut berperan membantu mengatasi masalah sosial di negeri kita adalah Lifebuoy Berbagi Sehat (LBS). Pesan-pesan edukasinya memang masih terkait dengan manfaat produk untuk menjaga kebersihan, namun gerakan moral dan aksi nyata yang digulirkan berdampak positif untuk kesehatan masyarakat luas.
Iklan Bukan Cuma Bicara
Liputan majalah Mix no. 09/2004:42-43, “Bersih Pangkal Sehat, Sehat Pangkal Lifebuoy,” mengulas kampanye LBS sebagai program untuk berbagi citra dan memperlihatkan kepedulian sosial perusahaan. Lifebuoy menyisihkan Rp10,- dari setiap penjualan sabun selama Juli-Agustus 2004 untuk pengadaan sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) dan air bersih. Dalam implementasi LBS bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia, KuIS (Koalisi untuk Indonesia Sehat), dan Yayasan Unilever Indonesia Peduli. Liputan lanjutan dalam Mix no. 10/2004:19, menggambarkan LBS sebagai program edukasi kesehatan pada masyarakat tentang pentingnya memiliki lingkungan yang bersih melalui sarana MCK.
LBS merupakan contoh penerapan konsep pemasaran berdimensi sosial (cause-related marketing), yakni program pemasaran yang diarahkan untuk memecahkan salah satu masalah di masyarakat yakni kebersihan atau kesehatan. Fokus bidang ini sangat sesuai dengan positioning Lifebuoy sebagai sabun kesehatan untuk keluarga.
Publikasi LBS terus berlanjut pada Cakram edisi 10/2005:18 yang mengungkap iklan lifebouy anak kecil kerja bakti mengantongi nilai penetrasi tertinggi (skor 8,4) dan berhasil menduduki peringkat pertama iklan paling efektif bulan September 2005. Ini berarti iklan tersebut mendapat perhatian tinggi dan temanya digemari masyarakat luas.
Program LBS mendahului kampanye mencuci tangan dengan sabun yang dilakukan KuIS atas bantuan teknis John Hopkins University dan didanai USAID. Sebagian kalangan mungkin menganggap kampanye ini sebagai hal “remeh tapi penuh tantangan” seperti diungkap Cakram edisi 12/2005:16-17. Program Kampanye yang meraih anugerah PR Week Award 2005 ini tak lepas dari hasil riset KuIS yang mengungkap 80% responden ternyata kurang memperhatikan perilaku sehat. Karena itu, kampanye yang dikemas agar menyatu dengan tradisi masyarakat lokal ini memdidik sasaran utama kalangan ibu-ibu. Tujuannya untuk membangun persepsi masyarakat bahwa cuci tangan dengan sabun sebagai kebiasaan hidup sehat.
Kebiasaan dan disiplin diri untuk hidup bersih yang tampak sederhana itu sebenarnya sangat mendasar, karena kebersihan adalah pangkal kesehatan dan berdampak pada sikap dan perilaku keseharian menjadi lebih baik. Bahkan bila kampanye hidup bersih ini dimaknai secara spiritual, berarti bersih dari dalam hati alias bersih batin, bukan hanya bersih lahir.
Bila ditelusuri lebih jauh, program LBS itu berbasis misi produk Lifebuoy yakni “untuk berperan langsung meningkatkan kualitas hidup keluarga Indonesia, khususnya kesehatan,” seperti dikemukakan Elfi Emilia Zurfiana Senior Brand Manager Lifebuoy pada majalah Mix no. 01/2007:26-27. Mengingat merek Lifebuoy telah hadir lebih dari 55 tahun di Indonesia dan sebagai pemuka pasar, maka terasa wajar menerapkan konsep pemasaran berbasis misi (mission marketing), meski ini merupakan suatu pilihan yang jarang ditempuh pemain baru.
Keseriusan dan konsistensi LBS bisa dicermati dari empat jurus yang diungkap Elfi (lihat rangkuman pada tabel) untuk meluruskan pandangan kalangan jurnalis yang terkadang menganggap aktivitas merek hanya komersial melulu. Ia mengakui publikasi media menjadi kunci sukses program LBS yang meraih penghargaan PR of the Year 2006 yang digelar majalah Mix dan memboyong empat penghargaan sekaligus yaitu: Overall, Objective, Strategy, dan Execution untuk kategori Product Brand PR.
Empat Jurus Lifebuoy Berbagi Sehat
no
Jurus/strategi
uraian singkat
1.
Pesan kunci (key message) yang jelas
Konsistensi pesan utama melalui keseluruhan rangkaian kampanye untuk menyuarakan misi sosial tentang pentingnya memiliki lingkungan yang bersih dan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun
2.
Menggandeng influencers dari berbagai unsur
Mitra dari kalangan pemerintah, para pakar, lembaga swadaya masyarakat seperti KuIS dan Nurani Dunia
3.
Menggunakan data ilmiah dan terpercaya
Dukungan data dari pihak yang kompeten seperti Statistik Diare dari Dinas Kesehatan atau hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dan KuIS
4.
Kesinambungan program LBS (sustainability)
Program LBS yang berkelanjutan, bukan insidental atau ad-hoc. Serial program kini telah mencapai empat tahun
Sumber: majalah Mix no. 01/2007:26-27 (wawancara Elfi E. Zurfiana Senior Brand Manager Lifebuoy).
Pada 2007 juga muncul iklan layanan masyarakat LBS dengan visual lima orang bersikap masa bodoh terhadap sampah yang berserakan di jalan sebenarnya menggugah kita untuk lebih peduli pada masalah kebersihan. Narasi iklan itu mengimbau, “Sebenarnya Anda bisa berbuat lebih banyak daripada mereka. Sehat ada di tangan kita, ayo turun tangan!” Ajakan itu disampaikan juga melalui iklan komersial TV (TCV) Lifebuoy: ”Kalau bicara aja sih tidak akan bisa bikin perubahan…” begitu suara anak terdengar dilanjutkan dengan visual aktivitas menjaga kebersihan. Kampanye Lifebuoy memang bukan hanya bicara, namun berujung pada aksi nyata.
Iklan LBS itu mengingatkan kita pada iklan-iklan yang tidak menawarkan produk, tapi berisi nada himbauan, ucapan selamat, pembelaan, atau menunjukan sikap peduli terhadap problema yang dihadapi masyarakat. Iklan yang dikemas dengan unsur edukasi dan berupaya menarik simpati publik itu kini mulai bertaburan di antara ramainya iklan-iklan produk.
Iklan yang dikeluarkan perusahaan untuk menanamkan suatu ide, citra atau kesan tertentu disebut iklan korporat. Namun, bisa saja pesan itu disampaikan melalui iklan produk. Karena ada suatu organisasi atau lembaga yang mengeluarkan, maka dikenal sebagai iklan institusi (instititional ad). Tapi mengingat tujuannya untuk membangun dan memantapkan citra, lalu dinamakan iklan citra (image advertising). Dilihat dari pesan yang disampaikan bersifat pelayanan atau pendidikan, imbauan, atau pembelaan, sehingga disebut iklan layanan masyarakat (ILM) dan iklan anjuran atau pembelaan (advocacy ad).
Fungi iklan semacam itu bukan untuk mengenalkan produk, apalagi membujuk orang untuk membeli. Tapi arahnya sebagai alat kehumasan (public relations/PR) untuk memantapkan citra perusahaan atau memperkuat iklan-iklan produk yang ditawarkan perusahaan. Lebih dari itu, ILM dan iklan pembelaan terkadang digunakan untuk membentuk opini pada kalangan tertentu, misal investor, pialang saham, pejabat pemerintah, mitra usaha, eksekutif dan para profesional, atau khalayak spesifik.
Program LBS memang bukan sekadar imbauan lewat iklan, namun sebuah edukasi panjang yang diupayakan terintegrasi mulai dari iklan anak kerja bakti, kampanye cuci tangan dengan sabun, bahkan pada 2007 diselenggarakan Lifebouy Health Camp sebagai penutup rangkaian Lifebouy berbagi sehat seperti disajikan dalam majalah Mix edisi 10/2007.
Bila dicermati lebih mendalam, program Lifebuoy Berbagi Sehat (LBS) sebenarnya bukan hanya kampanye produk, namun membawa nama baik Unilever sebagai perusahaan yang memayunginya. Secara internal ternyata terjadi transformasi PR seperti dipaparkan oleh Leila Djafaar, Head of Corporate Communications Unilever pada majalah Mix no. 04/2006:63. Menurutnya, semua karyawan menjadi duta perusahaan. Bila dulu lebih berorientasi produksi dan pemasaran, kini untuk mencapai target bisnis melengkapinya dengan PR. Perubahan kultur dalam kaitan berhubungan dengan media atau publik pun terjadi terutama sejak Maret 2003 dari tertutup dan takut, menjadi lebih transparan dan bersahabat.
Posisi strategis iklan korporat atau produk yang berjiwa sosial semacam iklan LBS bisa ditinjau dari kerangka yang dikemukakan Belch & Belch, 2007:563-568 yang membagi iklan korporat (corporate advertising) menjadi empat kategori yaitu: image advertising, event sponsorship, advocacy advertising, dan cause-related advertising. Semua iklan itu diposisikan dalam konteks upaya perusahaan untuk membangun citra dan reputasi, meneguhkan sikap terhadap suatu masalah sosial, atau mengundang keterlibatan masyarakat. Kampanye LBS bukan hanya mengharumkan nama Lifebuoy, tapi di mata sebagian kalangan aktivis, pembentuk opini publik, profesional, dan pejabat, program itu dianggap sebagai wujud kepedulian Unilever terhadap bangsa ini.
Belanja dan Berderma
Gaya pemasaran Lifebuoy yang berdimensi sosial dan empatik itu melibatkan konsumen untuk berpartisipasi, mengajak konsumen untuk menyumbang sambil membeli produk. Warna promosi yang melibatkan konsumen agar merogoh kocek untuk belanja sekaligus berderma demi kemanusiaan atau mengatasi masalah sosial ini makin populer. Perusahaan menerapkan pemasaran berdimensi sosial (cause-related marketing/CRM) dengan menyisihkan sebagian dana dari penjualan atau laba untuk membantu memecahkan problema sosial.
Beberapa promosi CRM bukan saja membebaskan perusahaan untuk menyediakan dana promosi tambahan, tapi malah meraup dana melalui konsumen. Tapi, dana promosi yang dihimpun digunakan untuk menunjukan langkah PR yang peduli. Gaya promosi simpatik semacam itu banyak diterapkan pada era 2000-an. Menjelang akhir 2005 misalnya, Indosat dan Telkom menyisihkan dana dari setiap sambungan telepon untuk disumbangkan kepada masyarakat yang kurang beruntung. Demikian juga Morinaga Peduli Sahabat mengimbau konsumen agar mengumpulkan mainan bekas untuk disumbangkan kepada anak-anak warga miskin. Program Morinaga ini mirip dengan Rinso Kasih yang mengimbau masyarakat untuk menyumbang pakaian bekas laik pakai, lalu dicuci dulu dengan Rinso sebelum disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Disertasi Dr. M. Gunawan Alif, Pemred majalah Cakram yang saya ulas pada majalah alumni ESQ, Nebula no. 03/2007:120-121 memaparkan beberapa contoh CRM dari produk Grup Tempo, perusahaan farmasi yang merayakan ulang tahun ke-50 pada Oktober 2003. Perusahaan menyisihkan Rp50,- dari setiap penjualan produk Hemaviton, Neo-rheumacyl, Bodrex, Bodrexin, dan Marina. Dana yang terkumpul disalurkan melalui Depdiknas sebagai beasiswa bagi para mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir dan kesulitan biaya.
Setahun kemudian, Grup Tempo menyisihkan Rp25,- dari setiap penjualan rangkaian produk Hemaviton periode 12 Oktober hingga 12 November 2004. Dana yang terkumpul disumbangkan untuk korban tragedi bom di Kuta Bali, Hotel JW Marriot dan depan Kedubes Australia.
Lain lagi cara Pfizer mengundang keterlibatan pendengar supaya mengirim SMS melalui acara radio yang disponsori perusahaan agar mereka menyimak pesan-pesan sponsor. Setiap SMS dari pendengar, perusahaan menyumbang Rp10.000,- untuk riset tentang AIDS oleh FKUI. Total dana yang disihkan sebesar Rp200 juta pada 2003.
Gaya promosi yang mengetuk hati nurani konsumen ini menjadi warna tersendiri di antara gebyar hadiah yang ditawarkan perusahaan. Promosi jenis ini penting untuk variasi, karena kita bisa memilah dan mengukur berapa besar konsumen yang loyal kepada produk yang memiliki kepedulian sosial atau membeli bukan karena hadiah semata. Selain itu, menjadi ajang promosi simpatik guna menjaring konsumen yang mau membeli sekalian beramal.
Kini, sebaiknya Anda berani mencoba berpromosi simpatik!
Posisi strategis iklan korporat atau produk yang berjiwa sosial semacam iklan LBS bisa ditinjau dari kerangka yang dikemukakan Belch & Belch, 2007:563-568 yang membagi iklan korporat (corporate advertising) menjadi empat kategori yaitu: image advertising, event sponsorship, advocacy advertising, dan cause-related advertising. Semua iklan itu diposisikan dalam konteks upaya perusahaan untuk membangun citra dan reputasi, meneguhkan sikap terhadap suatu masalah sosial, atau mengundang keterlibatan masyarakat. Kampanye LBS bukan hanya mengharumkan nama Lifebuoy, tapi di mata sebagian kalangan aktivis, pembentuk opini publik, profesional, dan pejabat, program itu dianggap sebagai wujud kepedulian Unilever terhadap bangsa ini.
Petikan Harmoni 19
Pola baru promosi simpatik yang mengundang konsumen untuk terlibat dalam program kepedulian kini mulai diminati produsen. Promosi itu menjadi sarana edukasi dan kehumasan (public relations/PR) yang ampuh untuk merebut simpatik publik, karena selain berusaha menggaet pembeli, sekaligus menanamkan citra perusahaan yang peduli terhadap problema sosial.
Program Lifebuoy Berbagi Sehat (LBS) sebenarnya bukan hanya kampanye produk, namun membawa nama baik Unilever, sebuah edukasi yang terintegrasi mulai dari iklan anak kerja bakti, kampanye cuci tangan dengan sabun, hingga Lifebuoy Health Camp.
Gaya promosi yang mengetuk hati nurani konsumen ini menjadi warna tersendiri di antara gebyar iming-iming hadiah yang ditawarkan perusahaan. Promosi jenis ini penting untuk memilah loyalitas konsumen yang membeli bukan karena hadiah semata.

contoh iklan corporate advertising



Contoh iklan rupa2...

Tanggal
19 Nov 2008
Harga
Rp 99,999 ,-
Kategori
Audio
Sub Kategori
Amplifiers
ID Iklan
3
Deskripsi
Ini adalah contoh iklan rupa2 yang dapat anda buat di koranmobil.com
Identitas Penjual
5550815223222Alamat:ramerame.com system testDKI JakartaJakarta Selatan

NB: Nantinya, di setiap iklannya anda dapat mengobrol ria dengan penjual dan lainnya.
Ya, seperti beriklan di forum, Dengan kelebihan: di koranmobil.com iklannya gampang "dicari" dan gampang untuk digunakan.

Ini adalah deskripsi lengkap iklan rupa2 anda.
Di sini, anda bisa memasukkan foto/gambar dan deskripsi sebanyak yang anda inginkan.
Anda bisa memasukkan spesifikasi barang yang sedang anda jual, misalnya.
Spesifikasi:
Max Power (Watts): 1200
Ad Hoc Power into 4 ohms, THD%: 202
Ad Hoc Power into 2 ohms, THD%: 250
Bridged into 4 ohms, THD%: 500
Signal to noise ratio (dB): 93dBA
Frequency Response (Hz): 5-50kHz
Current Drain at rated output (A): 48A
Width (inch): 15.8
Height (inch): 2.2
Depth (inch): 10.8
Weight (Approximate): 11.4
Fitur:
Class A/B
600W x 2 Max Power Output
202W x 2 into 4 ohms, 20Hz-20kHz, 1.0% THD
Variable 50-300Hz Lo-Pass Filter
-12dB/oct Selectable Slope
250W x 2 into 2 ohms, 20Hz-20kHz, 1.0% TH
Cara Memasukkan Foto/Gambar di sini> Upload foto anda di website penyedia layanan foto seperti imageshare.com> Copy URL foto/gambar anda dengan meng-klik kanan pada gambar dan pilih "Properties"> Klik "Insert/Edit Image" pada menu di bawah text area ini.> Paste URL foto anda pada isian "Image URL"> Voila! Foto/Gambar anda sudah berhasil dimasukkan ke dalam deskripsi lengkap iklan anda.Contoh: Foto/Gambar diambil dari www.wheelmax.com
Cara untuk membuat table di siniUntuk saat ini, fungsi untuk membuat table masih kami kembangkan, mudah-mudahan dalam 2-3 minggu setelah anda membaca ini fungsi table akan kami tayangkan.

Terima kasih. Semoga iklan anda makin cepat lakunya.

Rabu, 05 November 2008

ARTIKEL OPINI PUBLIK

TERBELAHNYA OPINI PUBLIK DI AMERIKA


Pemungutan suara di DPR Amerika Serikat (House of Representatives) mendukung keputusan Presiden Bush untuk menyerang Irak secara unilateral. Tapi rasio hasil voting itu penting dicatat, yaitu 296:133. Voting di Senat pun, yang akan berlangsung dalam satu-dua hari ini, diduga akan menghasilkan proporsi serupa. Jumlah 133 yang menolak ini tentu saja punya makna penting, apalagi diukur dari hasil pemungutan suara tentang serangan atas Afghanistan setahun lalu, yang menghasilkan kebulatan suara, kecuali hanya 1 abstein.

Pemungutan suara di DPR Amerika Serikat (House of Representatives) mendukung keputusan Presiden Bush untuk menyerang Irak secara unilateral. Tapi rasio hasil voting itu penting dicatat, yaitu 296:133. Voting di Senat pun, yang akan berlangsung dalam satu-dua hari ini, diduga akan menghasilkan proporsi serupa. Jumlah 133 yang menolak ini tentu saja punya makna penting, apalagi diukur dari hasil pemungutan suara tentang serangan atas Afghanistan setahun lalu, yang menghasilkan kebulatan suara, kecuali hanya 1 abstein.

Penolakan itu juga mencerminkan apa yang terjadi di tengah masyarakat Amerika. Suasana umum yang tampak, juga berdasar sejumlah jajak-pendapat, menunjukkan adanya porsi besar masyarakat yang menentang atau setidaknya bimbang tentang perlu dan arifnya Amerika menyerang Irak tanpa keikutsertaan negara-negara lain. Kelompok-kelompok di dalam Amerika, seperti American Friends Service Committee, Fellowship of Reconciliation dan lain-lain pun terus aktif menggalang penentangan terhadap rencana aksi sepihak Amerika.

Porsi besar masyarakat Amerika yang menentang itu memang mudah dimengerti, mengingat pidato-pidato Bush guna menjustifikasi tindakannya itu makin lama terdengar makin ganjil. Pernyataan-pernyataan sejumlah pembantu terdekatnya pun (di luar beberapa petinggi yang cukup jelas menyiratkan keberatan mereka terhadap serangan ke Irak tersebut, termasuk Menlu Colin Powell), tak pernah meyakinkan. Mereka, misalnya, tak pernah mampu mengungkapkan alasan-alasan objektif, umpamanya tentang senjata pemusnah massal Irak yang berulang kali disebut, tapi tanpa pernah sedikit pun dipaparkan buktinya.

Dengan kata lain, seperti disebut dalam “Deklarasi Kesadaran Semesta” pada demonstrasi anti-perang oleh puluhan organisasi di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta 8 Oktober lalu, seluruh pernyataan dan dokumen resmi pemerintah Amerika mengenai rencana penyerangan terhadap Irak “tidak dapat dinalar, penuh kontradiksi, sarat semangat kebencian dan nafsu perang, dan tidak ada hubungannya dengan tragedi 11 September, dengan Al Qaida, bahkan tidak ada kaitannya dengan ‘perang melawan terorisme’.”

Rencana penghancuran terhadap Irak itu bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang didirikan untuk “menyelamatkan generasi-generasi mendatang dari bencana perang” (Pembukaan Piagam PBB); dan untuk “mengambil langkah-langkah kolektif yang efektif guna mencegah dan melenyapkan ancaman-ancaman terhadap perdamaian” (Pasal 1 ayat 1).

Dalih yang dikemukakan dalam dokumen resmi yang disebut “Doktrin Bush” yang menetapkan “serangan pencegahan” (pre-emptive attack) tersebut juga melawan hukum internasional, karena Piagam PBB mengutuk aksi sepihak yang melampaui perbatasan negara lain tanpa dilandasi alasan untuk membela diri. Dan dalam hal ini, tiada alasan apapun bagi AS untuk membela diri dari Irak, sebab para analis pemerintah dan badan intelijen (CIA) pun tak menunjukkan indikasi bahwa Irak akan menyerang Amerika. CIA malah mengemukakan hal sebaliknya: Jika AS menyerang, mungkin Irak akan mengerahkan semua persenjataan yang dimilikinya untuk membalas (lihat The Nation, 10/9/2002).

Yang juga ganjil adalah bahwa rencana serangan itu tidak disertai pemaparan langkah-langkah yang jelas tentang apa yang akan dilakukan oleh Amerika sesudah serangan itu, katakanlah, berhasil mencapai tujuannya, yaitu melakukan “perubahan rezim” (regime change) di Baghdad. Dan dengan aksi sepihak ini, Amerika juga berarti harus memikul tanggung jawab sendirian untuk memulihkan kembali negeri yang tentunya akan porak poranda itu. Suatu beban ekonomi yang sangat besar atas uang pajak rakyat Amerika.

Perlu diingat bahwa sampai sekarang, sejak lebih dari 10 tahun lalu, Irak ditimpa sanksi ekonomi. Banyak orang kurang menyadari dampak dahsyat sanksi ini, meski kenyataannya hal itu telah menyengsarakan berjuta-juta warga sipil Irak, terutama anak-anak dan perempuan, karena sanksi itu meliputi penghancuran akses terhadap air bersih. Tindakan sanksi ekonomi itu sendiri berlawanan langsung dengan Protokol Tambahan untuk Konvensi-konvensi Jenewa 1977 tentang hukum perang, yang melarang pengepungan ekonomi terhadap warga sipil sebagai metode perang.

Di Amerika sendiri telah terbit cukup banyak studi mendalam yang meneliti dan memaparkan akibat-akibat mengerikan dari sanksi ekonomi tersebut, yang oleh sejumlah badan internasional dan kalangan dokter sukarelawan disebut telah menewaskan tak kurang dari 500.000 jiwa. Sedemikian hebatnya dampak itu, sehingga John dan Karl Muller, dalam artikel mereka di jurnal konservatif Amerika Foreign Affairs (Mei/Juni 1999), menyimpulkan bahwa sanksi tersebut mungkin “merupakan penyebab kematian yang lebih banyak di Irak dibanding pembunuhan yang mungkin terjadi oleh apa yang disebut senjata pemusnah massal di sepanjang sejarah”.

Sanksi ekonomi itu diterapkan dengan logika kepentingan yang sederhana, seraya mengabaikan total dampak-dampaknya bagi rakyat Irak: dengan dibuat sengsara, diduga rakyat Irak akan marah dan menggulingkan presiden mereka—sejenis varian taktik “revolution from within” gaya komunis (sementara “revolution from without”-nya adalah dengan menggalang dan membiayai kelompok-kelompok oposisi Irak di pengasingan oleh CIA).

Taktik yang sepenuhnya menginjak-injak kemanusiaan ini rupanya mengandaikan kepasifan dan ketakberdayaan Saddam Hussein; kenyataan yang muncul adalah sebaliknya: Rezim Irak bisa membalik penyengsaraan itu menjadi keuntungan politik, baik berupa simpati di dalam negeri maupun di arena internasional. Hasilnya: rakyat Irak, seraya makin sengsara, justeru makin sakit hati pada pemerintah AS, dan posisi Saddam justeru menguat berkat simpati rakyat.

Kini kesengsaraan rakyat Irak yang tak terperikan itu ingin dipuncaki dengan meluluh-lantakkan negeri itu dengan peralatan perang paling destruktif yang pernah dikenal oleh umat manusia. Alasan yang dikemukakan pemerintah Amerika adalah karena rezim Irak mengembangkan persenjataan pemusnah massal (senjata kimia, biologi dan nuklir), yang mengancam keamanan internasional; terkadang Bush menyebutnya “ancaman langsung terhadap Amerika Serikat”.

Alasan tersebut tetap dikemukakan meski faktanya senjata pemusnah massal tersebut justeru di masa lalu, di saat berlangsungnya perang Iran-Irak, dikembangkan berkat dukungan penuh pemerintah Amerika sendiri, yang bantuannya meliputi penyediaan bahan-bahan baku, sarana penyimpanan dan tenaga ahli. Fakta-fakta ini telah diungkap oleh badan-badan PBB, lembaga-lembaga nonpemerintah internasional, bahkan oleh sumber-sumber di dalam Kongres Amerika sendiri.

Dan sekarang, hampir dua puluh tahun berselang, apa yang disebut senjata pemusnah massal yang dinyatakan dimiliki Irak itu tak terbukti keberadaannya, namun pemerintah Amerika tetap bersikeras ingin menyerang dengan alasan itu. Padahal, kalaupun benar Irak memilikinya, Amerika tidak punya hak untuk menyerang, sebagaimana Irak tak berhak menyerang Amerika Serikat, meski adikuasa tunggal ini memiliki senjata pemusnah massal dalam jumlah dan skala yang jauh lebih besar.

Maka jelaslah perang ini semata-mata dilakukan untuk mencapai ambisi-ambisi hegemonik dan imperialistik Amerika, sebagaimana yang diindikasikan dengan jelas dalam “Doktrin Bush”, yang menyebut-nyebut “internasionalisme Amerika” ala Presiden Woodrow Wilson. Perang ini seolah dimaksudkan untuk menjadikan semua negara lain sebagai negara bagian dalam Imperium Amerika, yang keperkasaannya jauh melampaui Imperium Romawi.

Dan jika dipandang dari perspektif ancaman, ambisi-ambisi Amerika Serikat untuk menjadi imperium global itulah yang justeru merupakan ancaman yang langsung dan nyata (clear and present danger) terhadap perdamaian, kesejahteraan dunia, dan kemanusiaan semesta.

Histeria di seputar penghancuran terhadap Irak juga mencuatkan sebuah episode penting dalam karir Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, anggota kabinet Bush yang paling bernafsu menggempur Baghdad. Seperti dituturkan Jeremy Scahill dalam “The Saddam in Rumsfeld’s Closet” (ZNet, 2/8/2002), pada akhir Desember 1983 Rumsfeld diutus oleh Presiden Reagan untuk menemui Saddam Hussein di Baghdad, guna memulihkan hubungan AS-Irak yang rusak sejak perang 1967.

Ia kembali ke Baghdad pada Maret 1984, di tengah kecamuk perang Irak-Iran yang kian brutal. Di saat ia bertemu Menlu Tariq Aziz, menurut UPI, Irak melepaskan senjata gas mustard pada serdadu Iran, seperti disimpulkan oleh tim ahli PBB. Sehari sebelum Rumsfeld kembali ke Washington, Iran kembali mengeluhkan penggunaan senjata kimia oleh Irak di front selatan, menciderai 600 serdadu.

Rumsfeld bungkam belaka meski tahu pasti bahwa senjata-senjata maut itu digunakan oleh pasukan Irak. The New York Times malah melaporkan dari Baghdad pada 29 Maret 1984 bahwa “para diplomat Amerika menyatakan mereka puas dengan pulihnya hubungan AS dan Irak”. Satu setengah bulan kemudian (Mei 1984), Rumsfeld mengundurkan diri; pada November tahun itu hubungan diplomatik AS-Irak pulih total.

Dua tahun kemudian, dalam tulisan tentang niat Rumsfeld untuk menjadi kandidat presiden Republik pada 1988, Chicago Tribune Magazine menyebut bahwa salah satu prestasi Rumsfeld adalah membantu “membuka kembali hubungan AS dan Irak”. Majalah itu tak menyebut bahwa prestasi ini berlangsung ketika, menurut Departemen Luar Negeri AS, Irak sedang aktif menggunakan senjata kimia.



Masalah ini menjadi kontroversi panas di Washington. Duta Besar AS untuk PBB Jeane Kirkpatrick, misalnya, menyebut soal ini “sangat serius” dan karena itu “pemerintah akan membicarakannya dengan sungguh-sungguh”. Rumsfeld tak bersuara. Pada 1998 ia menandatangani “surat terbuka” kepada Presiden Clinton, mengimbaunya untuk melenyapkan “ancaman yang dimunculkan oleh Saddam.”

Kini, meski pemerintahan Bush tak juga sanggup menyajikan bukti apapun tentang kaitan Irak dengan Al Qaida ataupun bukti bahwa Baghdad masih memproduksi bahan-bahan untuk persenjataan kimia dan biologi, Rumsfeld bersikeras bahwa “ketiadaan bukti bukanlah merupakan bukti ketiadaan” (the absence of evidence is not the evidence of absence).

Sungguh mengherankan bahwa pemerintah Amerika, dari masa ke masa, terus meyakini bahwa cara terbaik untuk meraih kepentingan nasionalnya adalah dengan mengutamakan hipokrisi dan standar-ganda semacam itu.[]

product profile 2

Profil Perusahaan

Oriflame didirikan pada tahun 1967 dua orang bersaudara, Jonas dan Robert af Jochnick. Mereka memutuskan untuk memulai bisnis di usia yang masih muda, memiliki ambisi berjiwa wirausaha dan memiliki visi yang kuat. Mereka berdua ingin menciptakan perusahaan kosmetika yang menawarkan jenis kosmetika yang berbeda dari yang telah ada pada waktu itu, yaitu kosmetika berbahan dasar alami.
Dengan memulai metode distribusi produk baru dan inovatif, yaitu menjual produk yang dihasilkannya langsung kepada pelanggan.

Mengetahui bahwa wanita Swedia terkenal akan kecantikan alaminya, mereka berpikir:
“Bagaimana jika kita mengemasnya dalam botol?” Maka mereka mulai memformulasikan produk perawatan kulit berbahan dasar alami dari Skandinavia, seperti cloudberry, birch bark, dan lainnya. Mereka mengembangkan formulasi yang aman, efektif, serta dengan wewangian yang lembut.
Seri perawatan kulit Oriflame Swedish Care diluncurkan dalam waktu singkat. Saat ini, telah digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Sejak awal Oriflame merupakan pelopor “tidak diuji cobakan pada hewan” untuk semua produknya, jauh sebelum industri lain melakukan hal ini.

Sejalan dengan itu Af Jochnick bersaudara mengembangkan dan memulai sebuah metode penjualan langsung dimana Sales Consultant yang terlatih langsung membawa produk langsung ke rumah pelanggan mereka.
Orang senang untuk membeli produk kecantikan alami yang langsung ditunjukkan kepada mereka oleh seorang teman yang telah mereka kenal dan percaya. Para Consultant akan memberikan saran dan kesempatan untuk mencoba produk sebelum membelinya.
Jika pelanggan tidak puas, Oriflame menawarkan garansi uang kembali.

Perluasan wilayah penjualan merupakan konsekwensi alami dari kesuksesan Oriflame di Swedia.
Hanya dalam waktu dua tahun, perusahaan berkembang ke Finlandia, Denmark dan Norwegia, dan pada pertengahan tahun 80-an, Oriflame telah digunakan oleh wanita di negara-negara yang sangat jauh seperti di Indonesia.
Untuk memenuhi permintaan, pabrik Oriflame yang pertama didirikan di Dublin, Irlandia pada tahun 1978. Ini membuat perusahaan makin dapat fokus pada pengembangan formulasi perawatan kulit, dan kosmetika yang terbukti efektif dan aman, berbahan dasar alami.

Pembukaan cabang di negara Eropa Timur pada tahun 1990 memberikan peluang besar bagi Oriflame untuk menguasai pasar dengan kualitas produknya, harga yang terjangkau serta sistem penjualannya yang unik. Pabrik kedua di Warsawa pun didirikan pada tahun 1995 untuk memenuhi permintaan yang meningkat secara drastis.

Tahun 90-an telah menunjukkan perkembangan spektakuler dalam sejarah perusahaan, total penjualan naik hingga 500%, menjadikan Oriflame sebagai perusahaan dengan sistem penjualan langsung yang paling cepat berkembang di dunia.
Tahun 1997 Oriflame Eastern Europe S.A. dan Oriflame International S.A. melebur menjadi satu untuk menggabungkan sumber daya masing-masing untuk menghadapi tantangan investasi di tahun-tahun mendatang.

Bisnis Oriflame telah berkembang dengan sukses di seluruh dunia. Sekarang, perusahaan telah beroperasi di 5 benua dan lebih dari 60 negara, dari Peru hingga Vietnam, dari Russia hingga Morocco. Expansi yang agresif dimulai pada awal tahun 90-an membuat perusahaan berkembang delapan kali lipat hanya dalam sepuluh tahun.

Fakta tentang Oriflame :

  • Didirikan pada tahun 1967 di Swedia
  • Terdaftar pada bursa saham Stockholm (Stockholm Stock Exchange)
  • Kini telah berada di lebih dari 60 negara di dunia
  • 1.600.000 Consultants tersebar di seluruh dunia
  • 4.200 karyawan di seluruh dunia
  • Penjualan tahunan mencapai 600 juta EURO
  • Oriflame mencetak 72 juta katalog dalam 35 bahasa dalam setahun

poduct profile 1

Profil KFC Image

PT. Fastfood Indonesia, Tbk. Didirikan oleh Kelompok Usaha Gelael pada tahun 1978, dan terdaftar sebagai perusahaan publik sejak tahun 1994. Perseroan mengawali usaha warabala dengan pembukaan restoran KFC pertama pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta. Keberhasilan restoran QSR (Quick Service Restaurant) pertama ini kemudian diikuti dengan pembukaan restoran KFC di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sebagai pemegang hak waralaba tunggal KFC hingga saat ini, Perseroan senantiasa membangun brand KFC dan berbekal keberhasilan Perseroan selama 26 tahun, KFC telah menjadi brand hidangan cepat saji yang paling dominan, dan dikenal luas sebagai jaringan restoran cepat saji di negeri ini. Pada saat ini Perseroan memiliki 237 restoran, termasuk 1 unit mobi catering, di lebih dari 50 kota besar di Indonesia, memperkerjakan sekitar 9.280 karyawan dengan total penjualan lebih dari Rp1,028 triliun pada akhir 2005.

Perseroan adalah perusahaan publik yang terdaftar sebagai emiten di Bursa Efek Jakarta dengan kepemilikan saham mayoritas sebesar 79,2% oleh PT. Gelael Pratama (43,6%) dan PT. Megah Eraraharja (35,6%), dan sisa saham lainnya sebesar 20,8% oleh Publik (20%), dan Koperasi (0,8%). PT. Gelael Pratama adalah Kelompok Usaha Gelael sebagai pendiri KFC di Indonesia, sementara PT. Megah Eraraharja adalah anak perusahaan Kelompok Salim yang bergabung dengan Perseroan sebagai pemegang saham mayoritas pada tahun 1990.

Perseroan memperoleh hak waralaba KFC dari Yum! Brands Inc., perusahaan restoran yang memiliki system unit terbesar di dunia. Yum! Brands Inc. (dulu dikenal sebagai Tricon Global Restaurants) adalah pemilik waralaba merek dagang KFC, Pizza Hut, Taco Bell, A&W dan Long John Silvers. Nama Yum! terpilih karena melambangkan harapan perusahaan untuk memberikan kepuasan ‘Yum!’ di wajah para konsumennya di seluruh dunia. Dengan lima merek dagang yang beroperasi di bawah naungan satu perusahaan yang sama, Yum! akan menjadi yang terbaik dalam memberikan berbagai pilihan kepada konsumen, dan secara pasti akan memimpin dalam usaha multi-branding. KFC, sebagai pemimpin global dalam kategori restoran cepat saji yang menyajikan produk ayam dan produk lain yang berkaitan dengan daging ayam, secara khusus dimiliki oleh Kentucky Fried Chicken International Holdings, Inc., di Louisville, Kentucky (salah satu dari merek dagang Yum! Brands Inc.).

Produk unggulan Perseroan, Colonel’s Original Recipe dan Hot & Crispy Chicken, tetap merupakan ayam goreng paling lezat menurut berbagai survey konsumen di Indonesia. Dapat dipahami jika produk unggulan KFC berkualitas tinggi ini dapat diterima baik di Indonesia, sebuah negara dengan konsumsi daging ayam jauh lebih tinggi daripada daging jenis lain. Selain menyajikan produk unggulannya, KFC juga memenuhi selera konsumen lokal dengan menawarkan menu pilihan seperti Perkedel, Nasi, Salad dan Jagung Manis, serta produk lain-lain seperti Crispy Strips, Twister, dan Spaghetti, yang diterima dengan sangat baik oleh pasar kita. Untuk memberikan nilai tambah kepada konsumen, menu kombinasi hemat dan bermutu seperti KFC Attack dan Super Panas senantiasa ditawarkan. Pengembangan brand melalui pengenalan produk-produk baru, produk lanjutan, dan promosi paket murah meriah (secara permanent atau waktu terbatas) memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan KFC dan meningkatkan diferensiasi brand KFC yang kompetitif.

Untuk memonitor posisi pasar dan kinerja Perseroan secara keseluruhan, sebuah survei yang disebut dengan Brand Image Tracking Study (BITS) rutin diadakan sejak tahun 1998. Survei ini dilakukan setiap kwartal dan dikelola oleh sebuah perusahaan survei untuk mengetahui persepsi konsumen dan brand image perusahaan sejenis dalam industri hidangan cepat saji. Studi ini mengungkapkan bahwa KFC secara konsisten berada pada posisi tertinggi dan paling menonjol dalam benak konsumen untuk ‘Top of Mind Awareness’ dibandingkan dengan merek utama lainnya. Selain itu, Perseroan juga melakukan studi Customer Experience Monitoring (CEM) untuk mengetahui bagaimana pengalaman konsumen terhadap pelayanan dan fasilitas KFC, dan studi CHAMPSCHECK untuk menilai kualitas pelayanan dan fasilitas yang tersedia di KFC. Perseroan menerima penghargaan KADIN Award 2005 di bidang Pariwisata untuk kategori restoran. Surat Penghargaan ini dianugerahkan oleh Kamar Dagang & Industri dari pemerintah DKI Jakarta untuk perusahaan-perusahaan dalam kategori hotel, restoran & hiburan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pemasukan pemerintah setempat, dan juga atas perhatian yang besar dalam memelihara dan melindungi kelestarian lingkungan.

Perseroan sepenuh hati dengan komitmen untuk mempertahankan visi kepemimpinan dalam usaha restoran cepat saji, dengan terus memberikan kepuasan ‘Yum!’ kepada konsumen. Dukungan para pemegang saham, keahlian manajemen, loyalitas dan dedikasi karyawan, serta kontinuitas kunjungan konsumen, dapat membantu tercapainya visi ini. Perseroan yakin bahwa dengan menciptakan dan membangun satu budaya yang kokoh dimana setiap orang di Perusahaan membuat perbedaan, membentuk opini konsumen & sales mania, memberikan diferensiasi brand yang kompetitif, menjalin kontinuitas hubungan dengan masyarakat, serta mempertahankan konsistensi keberhasilan yang telah dicapai, pada akhirnya akan menjadikan KFC sebuah brand yang paling digemari di seluruh Indonesia, dan sebuah perusahaan yang baik dan kokoh.